Tuesday, 10 March 2015

Notes from Bandung



Benar-benar membekas, bagaimana Wubin menjadi sangat sentimental ketika ia berada di Bandung bersama rekan-rekan Bungkus! dan rekan lainnya. Berkali-kali mengatakan ia sangat senang bisa berada di Bandung berkumpul dengan rekan-rekannya, Mbak Asih, Kang Ista, Jojo, Ng Swanti, Edy Purnomo, Ridzki, Tandia, Usenk, Budi, Wid, Tommy, Aip, juga superstar Aji Susanto, dan rekan-rekan lain yang namanya akan memenuhi halaman ini. Begitu pula dengan saya yang meski tidak se-sentimental Wubin, namun saya juga merasakan hal yang sama ketika bisa berkumpul dengan rekan-rekan hebat dari Bandung dan kota-kota lainnya. 

Kebetulan saya datang menggantikan mas Ichwan Susanto a.k.a Boljug atas nama walking in ngalam untuk mengikuti Round Table Discussion “Community Endorsment on Photography”, juga menyaksikan rangkaian acara Bandung Photo Showcase. Banyak sekali hal yang saya pelajari baik dari diskusi ataupun rangkaian acara ini. Hari pertama saya diijinkan untuk sedikit mengintip Photo Editing Workshop dengan Zhuang Wubin sebagai mentornya di Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space. Dimana di tempat yang sama pada malam harinya ada dua rangkaian pameran, Revisiting Bandung, dan Francoise Huguier Solo Exhibition yang dibuka pada malam harinya.


Rangkaian acara dari Bandung Photo Showcase 2015 di Selasar Sunaryo Art Space
Zhuang Wubin dalam workshop Photo Editing
 
Pameran Revisiting Bandung
Francoise Huguier Solo Exhibition
 


Setelah tenaga terkuras pada hari pertama ditambah dengan lanturan obrolan malam di teras rumah Mbak Asih dan Kang Ista, pada hari berikutnya saya, Ng Swanti (Panna Foto Institute), Tandia (Bungkus!), Mbak Arum (Kami Punya Cerita), Budi (Kelas Pagi Yogya), dan Aji (Srawung PF) berdiskusi tentang pergerakan komunitas fotografi di kota masing-masing dengan Wubin sebagai moderator. Ini pertama kali saya harus mempresentasikan tentang peran walking in ngalam dalam pergerakan fotografi di Malang. Ternyata saya sadari tentang sebuah regenerasi komunitas foto di Malang, bahwa secara tidak langsung kami lahir dari warisan spirit yang ditularkan oleh Mamipo (Malang Meeting Point) yang dulunya diinisiasi oleh Ng Swanti, Edy Purnomo, dan Deny Salman. Saya sendiri yang hanya bersinggungan sebentar dengan Mamipo, dan kemudian belajar pada Ichwan Susanto, Muhammad Iqbal, dan Andi Brata yang merupakan jebolan dari program “Malang Sekarang” (MS 09 dan MS 10) yang diinisiasi oleh Mamipo. Ng Swanti juga menyemangati saya bahwa ia begitu senang walaupun Mamipo sudah berhenti, namun munculnya pergerakan komunitas fotografi baru yang lebih terfokus dapat menjadi  oase di tengah kehausan akan pergerakan fotografi di Malang.

Pameran Usenk dan George di Lawang Wangi Art Space juga di tempat yang sama digelar Round Table Discussion

Sesaat sebelum Round Table Discussion
Tentunya tak banyak yang bisa saya bicarakan mengingat bahwa saya tidak lagi ada di Malang sehingga hanya mampu menyumbang ide dan pikiran tanpa bisa menyaksikan langsung pergerakan rekan-rekan walking in ngalam. Namun banyak hal yang memang harus dicatat, bercermin dari komunitas lain seperti Bungkus!, Kelas Pagi, Panna Foto, Kami Punya Cerita, dan Srawung PF yang telah berproses dengan konsistensi dan pergerakan yang luar biasa hingga saat ini. Bandung Photo Showcase merupakan acara yang luar biasa oleh rekan-rekan Bandung. Walking in ngalam memang sementara ini masih bergerak disitu-situ saja, dengan program-program kecil yang masih harus dikembangkan lebih lanjut. Menyaksikan Bungkus! yang begitu konsisten dan luar biasa menjadi sebuah tamparan bagi saya akan sebuah pergerakan komunitas di bidang fotografi. 

Setelah santap siang dan menyelesaikan Round Table Discussion, yang sebenarnya belum juga tuntas dan menjadi PR bagi masing-masing partisipan, saya menyempatkan diri menengok pameran Bungkus! Revisited di URBANE. Selain menampilkan gambaran perjalanan komunitas yang dibentuk tahun 2013 lalu, pameran ini juga menampilkan karya-karya anggota bungkus yang sudah dipublikasikan baik melalui zine Bungkus! ataupun yang hadir di media internasional seperti seri foto "While You were Sleeping" karya Oka Riadi feat Gyaista Sampurno. Ini adalah salah satu karya yang saya anggap menarik karena disamping merupakan kolaborasi antara dua orang fotografer, tapi saya lebih melihat pada sisi keterlibatan diantara dua orang tersebut yang boleh saya sebut antara senior dan junior di Bungkus! paling tidak dengan project ini dua-duanya berhasil berbagi interpretasi visual keduanya, and it works!
 
Menengok Pameran Bungkus Revisited di URBANE

Bungkus! Revisited
Open Studio : KOMVNI di CMNK Gallery


Sayang sekali tidak bisa mengikuti rangkaian acara Bandung Photo Showcase sampai akhir. Catatan kecil ini hanya sebagian dari catatan besar yang patut saya sampaikan kepada diri sendiri, dan tentunya rekan-rekan walking in ngalam tentang Bandung dengan komunitasnya yang luar biasa. Bungkus! telah mengingatkan pada kita untuk terus berprogres, entah pelan tapi pasti, atau cepat dan hebat. Meskipun akan ada lebih banyak catatan khusus yang akan saya sampaikan langsung ke rekan-rekan,  akan sedikit saya bocorkan disini bahwa walking in ngalam akan dan telah menjalankan program-program selanjutnya yang walaupun masih bersifat lokal di Malang. Semoga ini menjadi langkah selanjutnya untuk berkembang menjadi sehebat Bungkus! sehebat rekan-rekan Bandung. Dan semoga dengan adanya catatan ini menjadi pengingat bagi kami, bahwa kami belum lagi menjadi apa-apa, semoga juga dengan adanya catatan ini akan menjadi sebuah pengingat akan hutang rencana-rencana kami. Bolehlah terus ditagih!


Terimakasih rekan-rekan atas kesempatan, pertemuan, dan ngobrol-ngobrolnya!
Terimakasih Bandung, Terimakasih Bungkus!

Arif Furqan, 10 Maret 2015


NB: Rangkaian acara Bandung Photo Showcase masih terus berlangsung hinga 17 Maret 2015. Kunjungi www.bandungphotoshowcase.com untuk info lebih lanjut